Makam Raja Batu Layang Pontianak, Kalimantan Barat

Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang merupakan aset ketiga warisan Kesultanan Pontianak sesudah Istana Kadriah dan Mesjid Sultan Abdurrahman. Konon ketiga lokasi ini mempunyai letak dengan garis lurus dari istana, mesjid dan makam dari arah timur ke barat. Komplek pemakaman ini khusus bagi para Sultan Pontianak dan keluarganya dan bukan untuk umum.

57E061D1-0A5C-4215-9727-B6C33FC77114

Terletak dipinggir sungai Kapuas, pada masa dahulu makam ini hanya dapat dicapai dengan perahu melalui sungai. Kini makam itupun dapat dikunjungi melalui jalan darat pada sisi jalan menuju Jungkat, kira kira 200 meter dari jalan raya. Selain ramai dikunjungi para peziarah, banyak pula wisatawan mengunjungi makam ini untuk mengetahui lebih lengkap tentang riwayat para Sultan Pontianak, dengan segala bukti keberadaannya.

Pada awalnya makam ini sebagai makam Sultan Abdurrahman yang wafat pada tahun 1808. Sultan dan kerabatnya telah memilih makam mereka di pinggir sungai Kapuas didaerah Batu Layang. Tidak jelas alasan yang kuat mengapa dipilih tempat pemakaman para Sultan itu dipinggir sungai Kapuas. Kebiasaan raja-raja Jawa atau Sumatera membuat tempat pemakaman disuatu bukit atau disekitar mesjid. Mungkin Sultan Syarif Abdurrahman mempunyai makna khusus yang bernilai sejarah baginya. Pada awal kedatangannya menelusuri muara sungai Kapuas tahun 1771, ia menemukan sebuah pulau ditengah sungai yang kemudian disebut pulau Batu Layang. Ketika ia berhenti di pulau itu, disinilah ia mulai diganggu oleh para “hantu” (Kuntilanak atau Pontianak) menurut dongeng. Tetapi sesungguhnya ia telah diganggu oleh para bajak laut dan perompak yang menghalangi perjalannya memasuki muara sungai Kapuas. Lima malam lamanya ia melawan dan menembaki para bajak laut itu dan akhirnya ia berhasil mengalahkan para bajak laut dan mendarat ditempat dimana kemudian ia mendirikan kerajaan Pontianak. Ditempat awal dimana ia berhasil menghalau gangguan musuhnya bajak laut ditempat bersejarah itu pulalah ia ingin dimakamkan yaitu di komplek Batu Layang.

Mengapa di sebut “Batu Layang” belum di dapat keterangan yang jelas. Mungkin waktu Syarif Abdurrahman diganggu perompak ada batu yang dilepar melayang ke perahunya. Di depan Batu Layang terdapat sekelompok batu warna kuning yang konon selalu tumbuh dan menjadi besar.

537350_4782433957700_975722841_n

Sampai sekarang kedelapan Sultan Pontianak dimakamkan di Batu Layang. Begitupun beberapa keluarganya, yaitu isteri, anak dan cucunya.

Makam Sultan Syarif Abdurrahman terbuat dari kayu belian bertingkat dua. Diukir dengan motif tumbuhan bersulur yang selalu ditutupi dengan kelambu berwarna terang. Makam Sultan yang sudah berusia hamper 200 tahun itu telah banyak mendapat perbaikan dan perubahan. Disampingnya terdapat makam isterinya Puteri Utin Chandramidi yang wafat tahun 1246 H atau tahun 1830.

Makam Sultan Syarif Kasim yang wafat tahun 1819 berpagar kayu dan berkelambu kuning. Disampingnya terdapat makam seorang isteri dan anaknya. Begitupun makam Sultan Syarif Usman yang wafat ahun 1860, dimakamkan bersama isteri dan keluarganya. Makam Sultan Syarif Usman dalam satu ruang berpagar khusus. Nisan para Sultan yang berbentuk gada, menunjukkan bahwa itu adalah makam seorang lelaki. Nisan keluarga perempuan bebrbentuk pipih.

Makam Raja-raja Pontianak

Demikian pula dengan makam Sultan Hamid I, Sultan Syarif Yusuf, Sultan Syarif Muhammad, Sultan Syarif Thaha dan Sultan Hamid II dalam kelompok tersendiri. Makam Sultan Syarif Muhammad yang naik tahta tahun 1895, wafat sebagai akibat keganasan tentara pendudukan Jepang bersama dengan Sultan dan Panembahan di Kalimantan dan puluhan ribu pemuka dan rakyat Kalimantan Barat tahun 1944. la ditangkap Jepang tanggal 24 Juni 1944. Setelah disiksa. Dikuburkan dipemakaman Kristen dekat gereja Katholik ( Jl. Kartini sekarang ) Pontianak. Baru pada tahun 1945, puteranya Sultan Hamid II memindahkan jenazahnya ke pemakaman Batu Layang. Di samping makam Sultan Syarif Muhammad dimakamkan isterinya Syecha Jamilah binti Mahmud Syarwani bergelar Maha Ratu Suri yang meninggal tanggal 14 April 1977. Terdapat pula makam Syarifah Fatimah binti Syarif Muhammad bergelar Ratu Anom Bendahara.

Sultan Syarif Thaha Alkadri bin Syarif Usman bergelar Pangeran Negara wafat pada hari Kamis 27 September 1984. Disebelahnya makam isterinya Raden Ajeng Sriyati bergelar Ratu Negara yang wafat hari Sabtu 12 Juni 1982.

Sultan Hamid II yang wafat tanggal 30 Maret 1978 di Jakarta juga dimakamkan di pemakaman Batu Layang. Inilah prosesi pemakaman Sultan Pontianak terakhir. Semua upacara pemakaman para Sultan Pontianak dilakukan dengan upacara kebesaran oleh rakyat Pontianak. Kebesaran seorang Sultan dimakamkan dengan penuh upacara dengan perarakan perahu Lancang Kuning melalui sungai Kapuas.

Baca Artikel Lainnya :  Masjid Jami’ PontianakOleh-oleh Khas PontianakRumah Bentang, Kolam Renang J.C. Oevang Oeray

Wisata Tanjung Bajau | Rindu Alam Singkawang Kalimantan Barat

dsc_0242

Tanjung bajau adalah tempat wisata yang baru saja dibuka untuk umum. Tanjung Bajau atau biasa disebut Rindu alam ini terletak di Kota Singkawang. Rindu Alam hanya berjarak 18 km dari wisata Pasir Panjang dan Palm Beach, objek wisata alam yang sudah sangat terkenal di Kalimantan Barat. Lokasinya terletak diantara Gunung Bajau, Gunung kota dan Gunung Pelapis. Rindu alam berada pada ketinggian sekitar 400m dari permukaan laut.

Untuk mencapainya, setiap pengunjung akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000 per orang. Pengunjung juga harus melalui jalanan panjang yang berkelok-kelok sebelum mencapai puncak taman ini. Tapi jangan khawatir, karena kini jalanan yang membentang sudah mulus akibat sentuhan pembangunan yang sangat memanjakan objek wisata ini.

Berada di ketinggian 400 m di atas permukaan laut, sensasi hawa dingin akan langsung terasa bagi mereka yang telah berhasil tiba di puncak Taman Rindu Alam ini. Dari puncak inilah, kita dapat melihat keindahan panorama pariwisata alam Kota Singkawang. Mulai dari pemandangan kota yang dihiasi warna-warni seribu kelenteng, pemandangan hamparan pasir beberapa pantai indah yang terletak di Kota Singkawang hingga pemandangan rimbun dan hijaunya tiga puncak gunung yang mengawal Taman Rindu Alam. Jelas sebuah pemandangan yang luar biasa.
Namun, tak ada yang lebih fenomenal selain menyaksikan perubahan warna langit dari puncak Taman Rindu Alam ketika masa matahari tenggelam tiba. Paduan warna-warna merah, kuning hingga ungu yang menebar pesonanya di langit luas membuat suasana Taman Rindu Alam serasa bagaikan sebuah lukisan abstrak yang perlahan akan memberikan perasaan romantis bagi setiap orang yang memandangnya. Pemandangan matahari terbenam di Taman Rindu Alam adalah sebuah pengalaman yang sangat menakjubkan. Selain itu, Rindu Alam menyediakan gazebo yang terletak di bibir jurang. Melalui gazebo yang terbuat dari kayu ini Anda bisa melihat kota Singkawang, hutan dan laut Natuna.

Pantai Tanjung Bajau Singkawang 2
Tanjung Bajau merupakan tanjung dengan bebatuan dan pasir yang menghubungkan Pantai Pasir Panjang dan Sinka Island Park dan juga merupakan kaki dari bukit Rindu Alam. Di lokasi wisata ini terdapat beberapa permainan air yang menarik untuk di coba. Beberapa patung hewan laut juga menjadi penghias yang membuat suasana pantai terkesan alami dan ramai. Di tanjung ini terdapat Pantai Pasir Pendek. Sesuai namanya, ujung pantai pasir dapat dilihat dengan jarak yang tidak jauh. Ombak di pantai ini sangat bersahabat sehingga aman bagi anak-anak untuk bermain dan berenang. Bebatuan yang berjajar hingga cukup jauh ke laut juga tak kalah membuat tempat ini menjadi menarik. Bagi wisatawan yang hobi memancing, tempat ini juga dipenuhi dengan ikan dan udang yang banyak terdapat diantara bebatuan dan dasar laut.

Pantai-Tanjung-Bajau-Singkawang

Baca Artikel Lainnya : Wisata Pasir Panjang Indah Singkawang, Oleh-oleh Khas Pontianak, Rumah Bentang, Rumah Radangk

Taman Pasir Panjang Indah Singkawang Kalimantan Barat

Taman Pasir Panjang Indah Singkawang

Pantai Pasir Panjang Singkawang, air laut yang bersih dn jernih mendorong para wisatawan untuk berkunjung dan berenang di pantai ini.

Pantai Pasir Panjang terletak di Kecamatan Tujuh Belas, Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Kota Singkawang yang dikenal sebagai Kota Amoy dan China Town-nya Indonesia, karena mayoritas penduduknya ( sekitar 70% ) merupakan etnis Tionghoa.

Mengunjungi kota yang berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak, Malaysia ini, tentu belum lengkap bila belum mengunjungi Pantai Pasir Panjang.

Mengenai jalur tempuh untuk sampai ke pantai ini. Kota Singkawang berjarak sekitar 142 kilometer dari Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dari Bandara Supadio atau Terminal Bus Pontianak, pengunjung dapat naik taksi, travel, atau bus sampai Kota Singkawang.

Dari pusat Kota Singkawang, Pantai Pasir Panjang berjarak sekitar 17 kilometer lagi. Pengunjung dapat mengaksesnya dengan menggunakan taksi, bus, atau minibus.

Pantai yang menjadi ikon pariwisata Kota Singkawang dan salah satu objek wisata andalan Provinsi Kalimantan Barat ini telah dikembangkan menjadi sebuah paket wisata terpadu bernama Taman Pasir Panjang Indah (TPPI). Dinamakan dengan Pantai Pasir Panjang karena pantainya membentang panjang melengkungi laut lepas.

Banyak pengunjung yang datang berenang di pantai ini. Tidak hanya itu saja, moment matahari terbenam (sunset) di pantai ini sangatlah indah. Tidak heran bila pantai ini ramai di sore hari.

Pantai Pasir Panjang Singkawang Di kawasan Pantai Pasir Panjang terdapat pusat informasi pariwisata, diskotik, persewaan speed boat, sepeda air, darmoling, gokart, shelter-shelter, pondok wisata, dan toko suvenir.

Pengunjung yang tidak terbiasa berenang di pantai dapat berenang di kolam renang yang tersedia, sedangkan yang tidak suka berenang atau pun berjemur dapat mengelilingi pantai dengan naik banana boat. Pengunjung yang membawa anak-anaknya tetap bisa bersenang-senang karena di kawasan ini tersedia arena bermain anak-anak.

Terdapat banyak hotel atau penginapan di pantai Pasir Panjamng Singkawang ini. Ada juga beberapa restoran dan café serta warung – warung kecil yang menjual berbagai macam makanan yang dapat memanjakan lidah para pengunjung.

Dari tepi Pantai Pasir Panjang Singkawang , pengunjung dapat menikmati panorama laut biru berlatar kaki langit yang juga biru. Samar-samar di kejauhan membias hijau Pulau Lemukutan, Pulau Kabung, dan Pulau Randayan yang dipagari perairan Laut Natuna.

Hamparan pasir pantainya yang luas dan bersih menjadikan kawasan ini nyaman digunakan untuk berjemur atau melakukan aktivitas olahraga, seperti voli pantai dan sepakbola pantai. Menyenangkan bila bisa dinikmati bersama orang – orang terkasih.

Liburan yang murah untuk melepas penat yang membebani pikiran selama sepekan bekerja. Menyegarkan pikiran sejenak dari aktifitas otak yang membebani dapat dilakukan di pantai ini. Udaranya yang sejuk, panorama nya yang indah. Serta alam yang asri, Pantai yang sangat indah dan menawan tentunya.

Tempat yang sangat cocok bagi anda yang menyukai keindahan alam, dan terbiasa berwisata alam. Dijamin anda tidak akan rugi bila mengunjungi pantai yang eksotis nan menawan ini. Segera kunjungi pantai indah ini. Pantai Pasir Panjang Singkawang.

Baca Artikel Lainnya : Oleh-oleh Khas Pontianak, Rumah Betang, Rumah Radangk, Pusat Oleh-Oleh Kebon Sajoek

Rumah Betang Pontianak-Kalimantan Barat

Bila ada berwisata ke kota Pontianak, selain menikmati wisata kuliner dengan mencicipi beberapa makanan khasnya, seperti lempok durian, minuman lidah buaya, kue bingke, kerupuk ikan belida, jangan lupa untuk mengunjungi beberapa obyek wisata budaya yang menarik, seperti Tugu Khatulistiwa, Jembatan Kapuas, Istana Kadariyah dan Rumah Betang.

Rumah Betang – adalah sebuah bentuk rumah tradisional yang menjadi rumah adat dan identitas dari Suku Dayak. Untuk melihat rumah ini, anda bisa menemukannya dengan jumlah yang cukup banyak di daerah hulu sungai, tetapi dengan adanya objek wisata Rumah Betang yang ada di kota Pontianak ini, anda tidak perlu jauh-jauh untuk menemukannya, walaupun berupa replika, tapi bentuk dan isinya menyerupai aslinya sehingga memudahkan wisatawan untuk lebih mengenal sisi kebudayaan yang ada di Kalimantan Barat.

Rumah Betang atau disebut juga rumah panjang (Long House) merupakan rumah adat suku dayak yang letaknya berada di pusat kota Pontianak, yaitu di Jalan Sutoyo bersebelahan dengan gedung Perpustakaan Daerah atau sekitar 150 meter dari rumah dinas Gubernur Kalbar.

Berbeda dengan rumah atau bangunan modern lainnya, ciri khas bangunan rumah betang adalah hampir semua bahannya terbuat dari kayu ulin, mulai dari tiang penyangga, dinding, lantai, tangga hingga atapnya. Dirumah ini juga dibuat sebuah tempat seperti aula yang menjadi tempat pertemuan para penghuni rumah betang. Tempat ini digunakan untuk aktifitas para penduduk, mulai dari mengayam, bercengkrama dan kegiatan lainnya. Di aula ini jugalah dilaksanakannya beragam kegiatan dan acara adat suku dayak.

Di hampir tiap bagian dinding di rumah ini bisa kita lihat lukisan khas suku dayak yang sangat indah. Seni dan budaya suku dayak sangat terasa di rumah betang ini. Rumah betang ini juga sering dijadikan lokasi festival adat dan budaya yang berasal dari dayak seperti naik dango dan perayaan pesta panen padi. Tak hanya festival-festival saja, berbagi sanggar kesenian juga sering menggunakan rumah ini untuk sarana berlatih mereka, misal berlatih menari. Selain nilai seni dan budayanya, rumah ini juga bersih dan terawat sehingga memberikan kenyamanan lebih pada wisatawan yang datang berkunjung.

Liburan akan terasa kurang berarti jika kita tidak mendapatkan kesan lebih, terutama di bidang budaya dan seninya. Dengan kunjungan ke Rumah Betang ini, anda akan mendapatkan beberapa pengetahuan tentang suku asli dari Kalimantan yakni suku Dayak. Jadi, masukkan Rumah Betang yang ada di kota Pontinak sebagai salah satu daftar wisata anda.

Artikel lainnya : Rumah Radakng Pontianak-Kalimantan Barat , Pusat Oleh – Oleh Kebun Sayuk , Kolam Renang Oevang Oeray , Pantai Sui Kakap Kab. Kubu Raya kalimantan Barat

Rumah Radakng Pontianak Kalimantan Barat

Pada peresmian tersebut mengundang para pejabat pemerintahan gubernur, bupati, walikota se Kalimantan. Pejabat Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) se Kalimantan, Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi se Indonesia, DAD kabupaten/kota se-Kalimantan. Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, MH, mengungkapkan, Radakng tidak saja menjadi pusat pengembangan budaya tapi menjadi pusat masyarakat dalam menyalurkan aspirasi seni dan budaya kreatif.

Rumah adat Dayak terbesar di Kalimantan ‘Radakng’ diresmikan Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, MH. Dihadiri ratusan undangan, baik lokal hingga luar negeri, rumah adat yang memiliki panjang 138 meter dan tinggi 7 meter itu akan menjadi pusat budaya masyarakat, terutama bagi suku adat Dayak Kalbar.

Peresmian tersebut sekaligus juga menandai dibukanya pekan Gawai Dayak ke-XXVIII tahun 2013. Gubernur Kalbar Drs. Cornelis, MH, mengungkapkan, Radakng tidak saja menjadi pusat pengembangan budaya tapi menjadi pusat masyarakat dalam menyalurkan aspirasi seni dan budaya kreatif.

“Jadi rumah adat ini bisa dimanfaatkan untuk kegiatan budaya yang positif. Pemerintah sudah mengakomodir kegiatan kebudayaan untuk mengenal lebih dekat setiap budaya yang ada. Apalagi, Radakng dibangun di kawasan kampung budaya. Tidak hanya membangun rumah adat Dayak tapi juga rumah adat Melayu,” ungkapnya.

Bos jamu Jago itu juga mengungkap, keberadaan rumah adat itu layak disejajarkan dengan rekor dunia lain yang dihimpun MURI di antaranya 12.000 angklung dan 2.000 becak. Selain itu, Muri kini telah membukukan 1.000 rekor dunia dan 6.000 rekor lainnya untuk tingkat Indonesia.

Ia menilai, rumah adat Dayak Radakng, layak mendapat rekor dunia karena hingga kini di Indonesia bahkan di dunia belum pernah ada rumah adat yang ukuran bangunannya seperti rumah adat Dayak Radakng. “Dengan ukurannya itu, rumah adat Dayak Radakng bukan hanya terbesar di Indonesia, namun juga terbesar di dunia,” katanya.

Rumah adat Dayak Radakng yang baru saja diresmikan oleh pemerintah daerah setempat pada Selasa (2/7) itu, terletak di Komplek Perkampungan Budaya Jl Sutan Syahrir, Kota Baru, Pontianak, Kalbar.
Rumah adat ini memiliki panjang 138 meter, dengan lebar 5 meter, dan tinggi 7 meter.

Penetapan rumah itu sebagai rumah adat rekor dunia diharapkan Jayasuprana mampu mendorong rasa kebanggaan nasional bagi seluruh masyarakat di Tanah Air. “Ini nanti manfaatnya luas, bangsa kita harus menjadi bangsa yang bangga terhadap karya dan karsa bangsa sendiri,” katanya.

Rumah Adat Radkng

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Tertua di Pontianak, Kalimantan Barat

118 - mg_0820-copy

Di komplek keraton tempatnya bertahta berdiri megah hingga kini sebuah masjid Jami Kesultanan Pontianak yang dibangun pertama kali oleh sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid yang sekaligus menjadi awal dimulainya sejarah kota Pontianak yang setiap tahun diperingati sebagai hari lahir kota Pontianak, ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami tua tersebut kini dinamai sesuai dengan namanya sebagai Masjid Sultan Abdurrahman – Pontianak.

Menurut sejarah, terjadi perselisihan antara Sultan dengan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan untuk meninggalkan Kerajaan Matan. Ia pindah ke Kerajaan Mempawah dan bermukim di kerajaan tersebut hingga meninggal dunia. Setelah al-Habib Husein meninggal dunia, posisinya digantikan oleh anaknya Syarif Abdurrahman. Pada tahun 1771 M Syarif Abdurrahman memutuskan pergi dari Mempawah dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Konon, sebelum Habib Husein Alkadri bertolak dari Hadramaut, Yaman Selatan, menuju kawasan timur, gurunya berwasiat supaya mencari permukiman yang berada di pinggir sungai yang masih ditumbuhi pepohonan hijau. Ketika diangkat menjadi hakim agama Kerajaan Matan dan Kerajaan Mempawah, beliau pun meminta kepada kedua sultan dari kerajaan-kerajaan tersebut untuk dibuatkan sebuah permukiman seperti yang diwasiatkan gurunya.

Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman berada di dekat pusat Kota Pontianak. Lokasi masjid dapat dijangkau melalui jalur sungai dan jalur darat. Pengunjung yang memilih jalur sungai dapat mengaksesnya dengan menggunakan sampan atau speedboat dari Pelabuhan Senghie, sedangkan pengunjung yang menggunakan jalur darat dapat naik bus yang melewati jembatan Sungai Kapuas. Di kawasan Masjid Jami‘ Sultan Abdurrahman terdapat pramuwisata, pendopo tempat istirahat, dan toilet. Di sekitar kawasan tersebut juga terdapat restoran terapung, warung makan, kios wartel,  vouvher isi ulang pulsa, sentra oleh-oleh dan cenderamata, serta persewaan sampan dan speedboat untuk mengelilingi kawasan masjid.

Masjid itu memiliki mimbar tempat khutbah yang unik, mirip geladak kapal. Pada sisi kiri dan kanan mimbar terdapat kaligrafi yang ditulis pada kayu plafon. Hampir 90 persen konstruksi bangunan masjid terbuat dari kayu belian (Eusideroxylon zwageri). Atapnya yang semula dari rumbia, kini menggunakan sirap, potongan belian berukuran tipis. Atapnya bertingkat empat. Pada tingkat kedua, terdapat jendela-jendela kaca berukuran kecil. Sementara di bagian paling atas, atapnya mirip kuncup bunga atau stupa.

Artikel lainnya : Aloe Vera Center | Lidah Buaya Kota Pontianak , Museum Negeri Pontianak , Tugu Khatulistiwa Pontianak , Taman Alun-Alun Kapuas Kota Pontianak Kalimantan Barat