Menu

Kerajaan Mempawah

Kerajaan Mempawah bermula dari sebuah kerajaan Dayak yang berkedudukan di dekat pegunungan Sidiniang, Sangking, Mempawah Hulu yang berdiri kira-kira tahun 1340 Masehi. Kerajaan yang dipimpin oleh Patih Gumantar itu disebut-sebut sebagai pecahan kerajaan Matan/Tanjungpura. Kerajaan ini sangat populer pada zamannya. Patih Gumantar juga telah mengajak Patih Gajahmada dari kerajaan Majapahit mengadakan kunjungan dalam menyatukan Nusantara. Kunjungan ini kemungkinan besar dilaksanakan sesudah lawatan Gajahmada ke kerajaan Muang Thai dalam membendung serangan kerajaan Mongol. Saat itu Gajahmada memberikan hadiah Keris Susuhan yang masih tersimpan sampai saat ini di Hulu Mempawah. Kerajaan ini harus berakhir ketika kira-kira tahun 1400 Patih Gumantar tewas terkayau oleh serangan suku Biaju/Miaju.

5958373_20140321074946

Opu Daeng Menambon bukanlah orang Kalimantan asli. Ia beserta empat orang adiknya berasal dari kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan. Mereka terkenal sebagai pelaut yang handal dan merantau keluar dari tanah kelahirannya. Lautan yang mereka arungi antara lain Banjarmasin, Betawi, berkeliling hingga Johor, Riau, Semenanjung Melaka. Selama mengarungi lautan, mereka banyak membantu kerajaan-kerajaan kecil yang mengalami kesulitan. Bantuan yang mereka lakukan tersebut berbentuk membantu kerajaan kecil berperang, baik perang saudara maupun diserang oleh kerajaan lain. Seringnya mereka memenangi peperangan mengakibatkan mereka dikenal banyak orang dan kerajaan.

img-20131105-00325

Kerajaan Mempawah banyak dikenal orang karena pemerintahan raja Opu Daeng Menambon pada 1737-1761. Namun, kerajaan ini sebelumnya sudah ada jauh sebelumnya, sekitar 1380. Setelah Opu Daeng Menambon wafat digantikan oleh putra mahkota bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya naik takhta. Adiwijaya terkenal anti penjajahan dan pada masanya perlawanan terhadap Belanda pernah terjadi di daerah Galaherang, Sebukit Rama dan Sangking.

Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya merupakan penerus tahta kerajaan Mempawah setelah Opu Daeng Menambon meninggal dunia pada 26 Syafar 1175 Hijriah. Masa kepemimpinan Gusti Jamiril membawa kemakmuran wilayah kerajaan yang dikuasainya.

Masa keemasan Gusti Amiril tersebut, bersamaan dengan masa penjajahan Belanda. Bahkan, kerajaan Mempawah selalu bertempur melawan Belanda. Hal itu disebabkan, raja Mempawah diisukan membenci dan akan memberontak pemerintahan Hindia Belanda.

Kabar tersebut membuat Belanda murka dan mengirimkan tentara prajurit yang bermarkas di Pontianak untuk menyerbu kerajaan Mempawah. Gusti Amiril yang mengetahui adanya penyerbuan, memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Karangan. Istana Amantubillah dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril bergelar Panembahan Adiwijaya Kusuma (1761-1787). Pada tahun 1880, Istana Amantubillahmengalami kebakaran ketika diperintah oleh Gusti Ibrahim bergelar Panembahan Ibrahim Mohammad Syafiuddin (1864-1892) renovasi terhadap bangunan Istana Amantubillah kemudian dilakukan hingga Istana Amantubillah dapat berdiri kembali pada tanggal 2 November 1992 ketika diperintah oleh Gusti Muhammad Taufik Accamaddin (1902-1943).

Akibat sulitnya medan perjalanan dari Mempawah menuju Karangan, gerakan pasukan Belanda menjadi lamban dan gagal. Kebencian Panembahan Adijaya Kesuma Jaya semakin menjadi kepada Belanda. Selama hayatnya, Gusti Jamiril berusaha untuk mengusir penjajah Belanda. Bahkan, sebelum meninggal, ia berpesan apabila meninggal dunia, dirinya tidak rela dikebumikan ke luar dari Karangan.

Berikut ini adalah daftar para penguasa di Kesultanan Mempawah, yang dirunut sejak periode Kerajaan Mempawah Dayak Hindu:

  1. Patih Gumantar (1380-1400-an M)
  2. Panembahan Kodong (1610-1680 M)
  3. Panembahan Senggauk (1680-1740 M)
  4. Opu Daeng Menambun (1740-1766 M)
  5. Panembahan Adi Wijaya Kesuma (1766-1790 M)
  6. Gusti Jati atau Sultan Muhammad Zainal Abidin (1820-1831 M)
  7. Gusti Amin atau Panembahan Adinata Krama Umar Kamaruddin (1831-1839 M)
  8. Gusti Mukmin atau Panembahan Mukmin Nata Jaya Kusuma (1839-1872 M)
  9. Gusti Makhmud atau Panembahan Muda Mahmud Alauddin (tidak diketahui datanya)
  10. Gusti Usman atau Panembahan Usman Mukmin Nata Jaya Kusuma (tidak diketahui datanya)
  11. Gusti Ibrahim atau Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin (1872-1887 M)
  12. Gusti Intan atau Panembahan Anom Kesuma Yuda (1887-1902 M)
  13. Gusti Muhammad Taufik atau Panembahan Muhammad Taufik Accamuddin (1902-1944 M)

Baca Artikel Lainnya :  Vihara Bodhissatva Karaniya Metta PontianakAir terjun Pancur Aji SanggauRaja Mempawah Opu Daeng MenambonPerayaan Hari Ulang Tahun Kota Pontianak

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *